Oleh :  Nabilla Rizky Fitriana Hai, perkenalkan namaku Nabilla Rizky Fitriana, anak ke tiga dari empat bersaudara, sekarang aku sedang ...

La Tahzan Innalaha Ma'ana

/
0 Comments
Oleh : Nabilla Rizky Fitriana

Hai, perkenalkan namaku Nabilla Rizky Fitriana, anak ke tiga dari empat bersaudara, sekarang aku sedang menempuh studi di fakultas kehutanan Universitas Gadjah Mada, saat ini aku berada di semester 3 hendak memasuki semester 4. Pada semester 3 aku mengambil mata kuliah salah satunya adalah silvikultur.

Di tengah hiruk pikuk praktikum silvikultur 2015 saat menumpangi bus yang membawa kami ke tempat tujuan yaitu wanagama, sang supir bus berhasil memecah tidurku saat dia menyetel dvd-nya dan memutar sebuah video clip dangdut campursari dan membuat suasana bus menjadi bising karena kami para penumpang mahasiswa ikut bernyanyi, seperti sedang karaoke, lagu tersebut berjudul “korbane wong tuo” liriknya yang mengena tuh dibagian ini “pak opo salahe ibu. Kowe nganti tego ninggal anakmu. Pak aku kangen bapak. Pengen bali kumpul dadi siji”  dalem hati Cuma bisa bilang “njiirrrrr, ini lagu gue bangettt, wkwkw”. Lagu itu membuatku flash back  beberapa tahun yang lalu. Tahun tahun yang begitu suram bagiku.

 Selama ini aku selalu menyembunyikan identitas bahwa aku adalah seorang anak broken home , karena menurut ku itu merupakan aib keluarga yang tak sepantasnya aku ceritakan, sejak SMA kelas 1 semester 2 tepatnya aku menyandang “gelar” itu. Tak banyak kawan yang tau tentang hal itu, hanya teman terdekatku saja, jika aku menceritakan hal tersebut tanpa disuruh tanpa diperintah, bulir bulir mataku langsung terjun bebas mengalir di pipi hehehe sedikit labay si, tapi memang itu kenyataannya, dari luar aku memang terlihat ceria, seolah tak ada beban, terlihat gagah, tangguh dan kuat, namun aku tetap saja wanita biasa yang kata orang wanita itu lebih “sensitif” lebih perasa dan lebih menggunakan hati dibanding pikirannya ya otomatis aku cengeng sekali dalam hal ini, aku tak pernah menangis saat musuh ku memukul ku, menendang ku atau membantingku saat pertandingan di lapangan, karena sakit di fisik tidak ada apa apanya dibanding sakit di hati huehuehe. Kebetulan saat SMA aku mengikuti ekstrakulikuler Merpati Putih sehingga aku dapat “melampiaskan” kegundahan, kesedihan, kemarahan itu saat berlatih atau  saat bertanding dilapangan. 

Tak ada satu orang pun yang menginginkan keluargnya berpisah, aku jamin tak seorang pun. Namun ini semua merupakan skenario dari sang pencipta, skenario terbaik yang telah Dia tuliskan untuk hambanya, ya aku hanya bisa “pasrah” menerima hal itu, banyak kejadian yang aku rindukan dikeluarga ku, terutama saat berkumpul bersama, bersenda gurau, bercengkrama, berjalan-jalan, dan yang paling kurindukan adalah berlebaran bersama. Mungkin sudah 5 tahun kami tidak merayakan hari raya umat islam secara utuh, awalnya saat takbiran hatiku sedih, mengingat esok tak ada opor ayam masakan ibu yang akan dimakan bersama keluarga, tak ada pergi sholat ied bersama saat ke masjid, tak ada acara sungkeman yang biasanya dilakukan, yaaah nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang bisa kulakukan untuk memutar waktu itu. 

Dijaman media sosial seperti sekarang sering aku melihat teman temanku mengupload foto bersama seluruh anggota keluarganya, ya, aku iri, sangat iri bahkan, kenapa keluarga ku tak bisa seperti itu, jujur saja kami tidak pernah foto bersama, tak ada satupun foto kami lengkap sekeluarga, jika ada ibu, tak ada bapak, jika ada bapak, tak ada ibu. Ehehe sepertinya disini aku yang sangat terluka dibandingkan dengan saudaraku, ya walaupun mereka juga terluka, namun disini posisinya aku mungkin anak yang dekat dengan bapak, dia selalu memujiku didepan orang orang, selalu mengajak ku pergi saat ada urusan dengan temannya, mengajak ku pergi ke pantai berdua saja, ya hanya aku dan dia.

Sekarang bapakku sudah memiliki keluarga baru, ya keluarga kecil yang mungkin selama ini beliau dambakan , yang dapat memberi kebahagiaan yang mungkin selama ini tak didapatkan saat bersama kami. Saat ini bapakku tinggal bersama istri barunya dengan 2 anak dari istri barunya di Cilegon, kota tempat aku tumbuh saat masa kanak kanak. Pada saat pernikahan mereka berlangsung, aku dan saudaraku tidak ada yang diundang untuk datang ke hari bahagia mereka, entahlah apa yang ada dipikirannya, mungkin dia tau aku tak akan merestui pernikahan tersebut hehe.

Sejak saat itu, aku memiliki kebiasaan baru, yaitu menangis saat malam sudah tiba ketika aku hendak tidur, aku tak menyangka ini terjadi kepadaku, aku berharap ini hanya sebuah mimpi buruk yang jika aku terbangun maka akan selesai mimpi buruk itu, namun aku sadar ini memang terjadi, dan aku harus menerimanya. Seperti sepenggal paragraf yang aku baca di novel yang berjudul Dunia Sophie yang sedikit menyadarkan ku “Tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu terjadi karena ada sebabnya. Maka, tidak ada gunanya mengeluh, jika takdir sudah datang mengetuk pintu” sejak saat itu aku selalu mengingat kata kata dalam novel ketika aku merasa galau, sedih dan kacau.

Hari hari di SMA ku lalui dengan baik, aku menjuarai beberapa kejuaran yang aku ikuti, perstasi terbaik menurutku adalah saat bertanding di Bogor, saat itu bapakku hadir menengokku dan mendoakan ku, namun jadwal tandingku malam hari sedangkan dia harus pulang disore harinya sehingga dia tak menonton ku, namun itu sudah membuatku bahagia, aku diajak makan bubur ayam pada pagi hari, bahagia sekali bisa makan bersama lagi, itu akan selalu ku kenang. Bapak ku menyemangatiku, dan Alhamduilillah aku menjuarinya, walaupun hanya menjadi runner up. Lalu prestasi selanjutnya saat mewakili kabupaten ditingkat provinsi atau biasa disebut O2SN, yah Cuma sampai perempat final sih, namun itu adalah salah satu dari sekian cita cita ku, yaitu mempunyai jaket bertuliskan “Banyumas” di belakangnya, senang sekali rasanya memakai jaket itu.

 Saat kelas 3 sma aku bingung untuk melanjutkan studi ku, aku memutuskan untuk memilih fakultas Kehutanan di Universitas Gadjah Mada, dan Alhamdulillah aku diterima, namun itu tak berjalan mulus, aku menjumpai masalah, disitu, bapakku berkata dia tidak mau membiayaiku karena aku kuliah di jogja, dia akan membiayaiku jika aku kuliah di purwokerto saja. Namun Allah sudah menakdirkan ku untuk tetap kuliah disana, akhirnya bapak ku membiayai UKT ku saja, dan ibu yang mebiayai kehidupan ku sehari-hari. Ibu mencari pekerjaan kesana kemari supaya dapat mengirimkan aku “sangu” untuk hidup di jogja mulai dari membuat nasi bakar hingga malam, lalu pada pagi hari harus mengantarkan ke toko toko, membersihkan rumah teman ibu yang sudah tidak ditinggali dan menjaga ibu dari teman SMAnya.

Aku harus berjuang disini, belajar dengan giat supaya medapat ilmu yang bermanfaat dan nilai yang baik, serta membuat bangga mereka, dan membahagiakan mereka. Ternyata kehidupan di bangku kuliah tak seperti di SMA, aku menjadi jarang berlatih Merpati Putih, tak seperti saat SMA dulu, orientasiku mulai berubah, tanggung jawabku disini lebih berat dibanding saat SMA, maka aku memutuskan untuk vakum sementara dari latihan latihan yang menguras tenaga. Aku fokus pada studi ku supaya aku cepat lulus, sehingga tidak membebani orang tua dalam membiayai kehidupanku saat kuliah. Di semester 2 kehidupan di kampus lebih bervariasi lagi, mulai dari pelajarannya praktikumnya dan kegiatan organisasi yang ku jalani, karena aku kurang pandai membagi waktu, maka IP ku turun hehehe itu menandakan aku harus lebih pandai dalam menejemen waktuku. Tapi tak apa akan ku perbaiki di semester selanjutnya.

Memasuki semester 3, seperti awal yang baik dihidupku, aku dipertemukan dengan komunitas yang memiliki latar belakang yang sama, ya Broken home, disini pikiran ku menjadi lebih terbuka, lebih bisa sedikit mengikhlaskan, dan aku lebih termotivasi untuk menjadi lebih baik. Keluarga baru ku bernama HAMUR, pertama aku tak tau apa artinya, ternyata itu membacanya dengan cara dibalik, menjadi RUMAH, kau tahu banyak orang keren yang bergabung di komunitas inspirasi, HAMUR ini adalah rumah kedua bagi kami.

Saat pertama kali aku bercerita tentang hidupku ke mba Dian, dia berkata” kamu harus membiasakan cerita sama orang, biar bisa lega, terus dapet banyak suport dan doa buat kamu” aku pikir benar juga, sejak saat itu aku menjadi lebih terbuka dalam menceritakan kehidupanku, ya walaupun tetap saja bulir itu jatuh tepat di pipi ku. Namun itu membuatku lebih lega dan membuatku  memiliki teman yang mengerti tentang kehidupan ku. Salah satu anggota hamur juga pernah berkata” terimaksih tuhan untuk pengalaman broken homenya” yaa, aku fikir, kita hanya butuh berterimakasih dan berdamai dengan masa lalu, maka kau akan lebih ikhlas, jika kau berhasil berdamai dengan masa lalu maka tak ada yang mengikatmu di belakang, kau akan menjadi lebih kuat untuk melangkah karena beban mu sudah kau tinggalkan, sudah kau ikhlaskan. Seperti kata- kata seorang novelis terkenal yaitu Darwis Tere liye, “ hidup ini hanya tentang kedamaian hati. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran”, “akan selalu ada hari hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu akan menghantam kita. Tapi akan selalu ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit”. Maka setelah membaca itu aku berfikir bahwa aku harus berdamai, aku juga harus memeluk kenangan pahit dan manis, maka aku akan mengikhlaskan semua, aku akan bahagia dan tak terbebani.

Aku selalu mengingat ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa Allah tak akan menguji umatnya kecuali dia mampu, ya, Allah tau aku kuat, aku mampu, aku kuat menghadapi ini semua. Sekali lagi terimakasih Allah untuk pengalamannya. Aku harus menjadi anak yang berkualitas dibawah tekanan, karena sesuatu yang biasa pada tekanan dan dia dapat bertahan, maka bila “tekanan” itu dilepas dia akan melejit, melambung, dan melesat. Karena intan terbaik dihasilkan dari tekanan yang ada, jika dia bertahan dalam tekanan itu, maka akan menjadi intan yang berkilau, kokoh dan mahal. Yang harus aku lakukan saat ini adalah fokus mengejar cita cita, fokus membahagiakan orangtua, fokus memerbaiki diri, tak perlu kuingat kenangan itu, jadikan itu sebagai pembelajaran esok hari, ambil saja hikmah dari semua kejadian kejadian itu.


Kau tau untuk menjadikan otot tangan, kaki, perut dan lain lainnya besar dan kuat, itu membutuhkan latihan dan beban yang menyakitkan, serta didukung nutrisi seperti protein dan vitamin, begitu juga “otot hati” untuk menjadikannya kuat dan besar perlu kejadian dan pengalaman yang menyakitkan namun untuk “nutrisi” bagi hati hanya ikhlas dan sabar. Fa innama’al ‘usri yusro, inna ma’al ‘usri yusro, sesungguhnya bersama dengan kesulitan ada kemudahan, bersama  dengan kesulitan ada kemudahan, Allah sangat menekankan bahwa disetiap ada kesulitan maka Allah juga akan memberikan kemudahan, bukan kah Allah tak pernah mengingkari janjiNya? Percaya saja padaNya maka semua akan jauh lebih mudah, sandarkan saja padaNya maka semua akan jauh lebih ringan. Tak perlu bersedih sesungguhnya Allah bersama kita. LA TAHZAN INNALAHA MA’ANA. 


You may also like

Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Pencarian

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Most Trending

Popular Posts