Kenalkan, aku Allona. Aku anak terakhir dari lima bersaudara. Tiga saudara tiri dan satu saudara kandung. Tiga saudara tiriku merupakan ba...

Tidak Ada Kecewa

/
0 Comments

Kenalkan, aku Allona. Aku anak terakhir dari lima bersaudara. Tiga saudara tiri dan satu saudara kandung. Tiga saudara tiriku merupakan bawaan Papa dari istri pertama. Mamaku merupakan  istri kedua setelah istri yang pertama meninggal. Ya, Mamaku seorang gadis dan Papaku seorang duda beranak tiga lebih jelasnya.

Kehidupan kami berjalan lancar dan cukup bahagia. Papa sering mengajak aku ke luar kota untuk bekerja dan menggendongku kala aku masih balita. Papa juga sering mengajak aku untuk makan di warung Bu Safak dengan menu opor pupu tekuk. Meskipun hubungan kami tidak seakrab hubungan ayah dan anak pada semestinya, tapi aku cukup bahagia akan hal kecil yang aku lakukan bersama dengan Papa. Aku juga bahagia karena aku tinggal bersama Mas Nino, Mbak Widya dan Mbak Andin yang selalu menjaga dan membahagiakan aku. Oh iya aku tidak tinggal bersama dengan Mbak Ayudia , kakak tiri ketiga ku karena ia dirawat oleh saudara dari Papa.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kala itu anggota keluargaku telah memiliki handphone  (hp) kecuali aku karena masih balita. Kudengar seringkali Mama dan Papa beradu mulut tentang masalah pesan singkat di hp Papa. Papa bilang itu hanya pesan salah kirim yang kebetulan ada di hp Papa. Beberapa waktu kemudian, Mas Nino kecelakaan di dekat rumah dan hp Papa Mama yang pegang. Saat itu pesan singkat dan missed call berdatangan di hp Papa. Mama mulai curiga dan terkuak sudah ternyata selama ini Papa memiliki hubungan dengan wanita lain di luar sana. Aku yang masih kecil kala itu ingat betul saat diajak Mama untuk survey ke lokasi sebenarnya siapa wanita itu. Ternyata sosoknya adalah wanita pedagang kaki lima yang diberikan modal oleh Papa. Kemudian Papa di sidang di rumah namun Papa mengelak tidak melakukan hal semacam itu meskipun barang bukti sudah berbicara. Papa berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu.

Tahun dua ribu lima Papa memilih untuk urban ke ibukota untuk memperbaiki ekonomi keluarga agar lebih baik. Komunikasi antara aku dan Papa sudah tidak se intens dulu lagi. Tak berapa lama kemudian, Mama menyusul Papa ke ibu kota dan aku hanya tinggal bersama dengan Mas Nino dan Mbak Widya. Sedangkan Mbak Andin sudah mulai pindah ke kota tetangga untuk menempuh pendidikan lanjutnya. Di jakarta ternyata Papa menjalin hubungan dengan seorang pemulung. Miris memang, namun mau bagaimana lagi itu juga Papaku. Dan lagi, Papaku tidak mau mengakui hal itu kembali meski barang bukti telah tersedia. Dan setelah kurang lebih enam bulan Mama pun memilih untuk kembali ke kampung dan hidup bersama aku lagi.

Setelah dua tahun sifat Papa masih saja sama, perekonomian keluarga pun mulai limbung dan mengenaskan. Akhirnya Mama memutuskan untuk pergi ke jakarta. Karir Mama dimulai dari bekerja di konveksi dengan gaji lima puluh ribu seminggu, mencuci pakaian tetangga, meluruskan paku bekas, jual beli paku bekas dan besi tua, membuka toko, hingga Mama mampu mandiri dengan usahanya dan menstabilkan perekonomian keluarga. Hal ini semata-mata karena kebutuhan keluarga yang makin membengkak dan Papa masih menjalin hubungan dengan wanita lain di luar sana. Papa pernah menjalin hubungan dengan penjual bunga, pemulung, pedagang asongan, istri rekan kerja, karyawan pabrik, dan lain sebagainya.

Selama kurang lebih empat setengah tahun aku berpisah jarak dengan Mama, akhirnya saat aku memasuki sekolah menengah pertama, aku dan Mama memutuskan untuk hijrah dan tinggal bersama dan melupakan tentang keburukan Papa. Sudah cukup puas untuk tinggal di kampung karena Papa selalu mengadu domba Mama dengan keluarganya sehingga ada hubungan tidak harmonis antara Mama dengan sanak saudara. Saat itu kita hanya tinggal di kamar kost kecil dengan kamar mandi kumuh yang saat pertama kali ku melihatnya hanya ada rasa jijik. Namun lama kelamaan aku terbiasa dengan hal itu dan justru aku merasa memiliki rumah disana. Papa hanya sesekali menjenguk aku dan Mama karena domisili Papa saat itu masih di jakarta sedangkan aku di Jawa.

Tempat baru merupakan usaha baru. Begitulah prinsip aku dan Mamaku. Kala itu Mama selalu mencoba untuk memperbaiki perekonomian tanpa ada campurtangan Papa. Mama memulai usaha kecilnya dengan membuka warung makan, pijat lulur dan pada akhirnya bekerja di sebuah laundry yang kini menjadi miliknya. Butuh cukup waktu untuk merasakan makan enak tanpa memikirkan uang jajan yang ada di kantongku kala itu. Butuh perjuangan agar tidak di bully oleh teman-temanku kala itu. Papa masih sama, masih bermain dengan wanita yang entah sudah berapa jumlahnya. Akupun mulai merasa malas apabila Mama bercerita tentang Papa dan wanitanya.

Dua tahun yang lalu, Papaku sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi dan sudah memutuskan hubungan dengan kami (aku dan Mama). Papa tinggal di rumah lama kami. Papa berhenti bekerja karena Papa sudah muak selalu dituduh berselingkuh secara terus menerus oleh Mama. Tiada lagi rasa percaya yang diberikan oleh Mama kepada Papa. Hal ini berdampak pada aku yang galau memikirkan urusan keluarga. Aku ingat betul kala itu aku masih terduduk bermain hp di bangku belakang dengan tiada aura semangat. 

Tiba-tiba guru BK memanggil nama tengahku yang kebetulan ada orang lain yang memiliki nama sama dengan ku. Lalu guru BK itu menanyakan apakah aku memiliki saudara bernama Ibu susi, ku jawab benar. Dalam hatiku nama itu adalah nama yang akhir-akhir ini selalu ku dengar disetiap pertengkaran Mama dan Papa. Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya di ruang BK sekolahku. Tak kusangka ternyata sosok di depanku ini merupakan sosok yang mengakibatkan Mamaku tak tidur di malam hari dan membuat Papaku akhirnya memilih untuk berhenti bekerja. Sebelum ke ruang BK, aku sudah memberi kabar ke Mbak Andin bahwa pacar Papa menemui ku di sekolah. 

Beberapa saat ku ajak ngobrol Bu Susi yang datang ditemani oleh anaknya. Aku ajak dia berbincang dengan nada baik meskipun hatiku teriris dan ingin menghabisi muka dua orang di hadapanku kala itu. Beberapa saat kemudian, datanglah Mamaku dengan amarah yang tersulut. Akhirnya aku mulai menangis dan salah seorang guru BK mencoba untuk menenangkanku. Di luar ruangan kecil ini Mamaku bertengkar dengan bu susui yang merupkan pelakor dalam keluarga kami. Tak sedikit mata memandang kejadian itu. Aku pun malu dengan diriku sendiri yang tak bisa menjaga situasi itu, justru aku terjatuh pilu.

Semenjak kejadian di ruang BK itu, aku tak berani menampakkan mukaku di khalayak umum. Terlebih ketika ada salah seorang teman yang dengan baiknya membeberkan fitnah antara aku dengan teman yang lain. Aku harus mencari cara agar aku bisa kembali menjadi aku seperti sedia kala. Pada akhirnya, aku menemukan cara yaitu dengan cara berprestasi. Setiap perlombaan aku ikuti entah bagaimana pun hasilnya yang penting aku selalu berusaha. Hingga akhirnya beberapa kejuaraan pun telah berhasil aku genggam.

Beberapa bulan kemudian, aku sering merasa apa yang selama ini aku pendam sudah tidak mungkin aku jaga seorang diri. Aku sudah tidak kuat untuk merasakan ini semua seorang diri. Beberapa upaya bunuh diri juga pernah kulakukan namuan alhamdulillah semua nihil, tak ada satupun yang berhasil. Kemudian aku mencoba untuk menemukan jalan lain yang lebih baik daripada mengakhiri hidup. Aku memilih datang ke seorang ahli jiwa dan menceritakan segala sesuatu yang aku rasakan. Bagai disambar petir, ternyata selama ini aku menderita bipolar dan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Aku pun harus menjalankan beberapa terapi yang membuatku lebih baik daripada sebelulmnya karena Aku belum bisa meneirma masa lalu ku dan kenyataan tentang orang-orang yang berada disekelilingku.

Kejadian demi kejadian telah terjadi dalam hidupku dan keluargaku. Kata cerai seolah selalu menghantui kami terutama Mama. Namun Mama memilih untuk tidak berpisah dengan Papa karena banyak pertimbangan, salah satu diantara pertimbangan itu adalah aku dan masa depanku. Bagaimanapun beliau tetap Papaku. Apapun itu, bagaimanapun itu tetap orang tuaku, darah dagingku. Tak mudah untuk terus tertindas oleh aral yang ada. Dan bagi yang bertaya apakah Papaku masih memiliki hubungan spesial dengan orang lain? Jawabannya masih dan tentu saja selalu dengan orang yang berbeda setiap waktunya.

Kecewa pasti ada karena aku selalu berharap papaku lebih baik atau setidaknya sama dengan papa temanku. Aku selalu berharap keluargaku utuh layaknya keluarga lain. Aku juga ingin drama telenovela seperti ini tidak terjadi dalam kehidupanku. Jika aku selalu berharap dengan asa tanpa upaya, aku hanya akan mendapatkan kekecewaan untuk yang kesekian kali. Termasuk masalah papa dan keluarga.

Kehidupan memang menuntut kita untuk selalu belajar dari masa lalu untuk meraih masa depan. Jangan jadikan dirimu butiran sisa masa lalu yang terbawa angin kemana ia mau. Jadilah sosok insan yang menjadikan masa lalu untuk menggapai butiran demi butiran kecil untuk merangkai masa depanmu. Tidak ada seorangpun yang menyakiti ataupun mengecewakanmu. Kamu hanya kecewa terhadap harapan yang kau untai terhadap seseorang itu. Percayalah.



(Indah Wulandini, 18 tahun)


You may also like

Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Pencarian

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Most Trending

Popular Posts