07.52
Tuhan Belum Selesai dengan Hidupku
/
0 Comments
Oleh:
Michelle CG
“Tuhan
pasti sedang tertidur ketika aku dilahirkan, sampai-sampai Dia tidak tahu aku
telah lahir ke dunia... keluargaku menolakku sejak hari aku dilahirkan, mereka
membuatku kabur dari rumah saat aku masih Tk, masa kecilku diisi dengan
berbagai percobaan bunuh diri, teman-teman membully-ku di bangku SD, aku
memiliki seorang kakak yang menderita bipolar, disusul kakak ke-tigaku yang
menderita depresi dan jiwaku tersesat sebagai
seorang ateis saat SMP.
Background keluargaku adalah etnis
tionghoa keturunan yang masih kolot dan sangat mendewakan anak laki-laki. Aku
adalah seorang anak hasil bayi tabung yang diprogram sebagai bayi laki-laki.
Tetapi, Tuhan berkehendak lain, dan aku terlahir sebagai perempuan. Secara
otomatis aku diperlakukan sebagai anak yang tertolak. Kedua orangtuaku mulai
sering bertengkar, bahkan setelah diselidiki, papaku memiliki anak di luar
nikah. Secara hukum mereka tidak bercerai, tak akan pernah. Tapi yang pasti,
hubungan keduanya sudah broken. Begitu juga hubunganku dengan mereka. Ketiga
kakak-ku yang semuanya perempuan juga merasa tidak tahan saat berada di rumah.
Karena terlalu banyak menumpuk amarah dan kesedihan seorang kakakku mengalami
gangguan Bipolar, dan yang seorang sempat mengalami depresi.
Saya sendiri bertumbuh dalam
ketakutan dan kegelisahan, dibully saat SD karena minoritas, pernah masuk ke
kulkas dan menenggelamkan diri di bathub agar semua selesai. Hatiku penuh
dengan luka batin dan kepahitan. Hari-hari yang buruk membayangi. Sulit rasanya
mengampuni keluarga dan mengampuni diri sendiri, ditambah saya tumbuh sebagai
pribadi yang minder akut. Ingin sekali berteriak dan menyalahkan kenapa Tuhan
tidak adil, tapi saat itu aku tidak percaya akan keberadaan Tuhan, jadi aku
tidak punya alasan menyalahkan-Nya.
Titik balik dalam hidupku terjadi
pada tahun 2016, di mana banyak sekali pikiran kelam yang menghantui.
Pikiran-pikiran mengenai bunuh diri pun sudah hadir setiap hari. Saat itu hati
nuraniku mengatakan “sampai kapan aku mau mengalami penderitaan ini”. Seminggu
setelahnya, seorang teman mengajakku mengikuti sebuah camping rohani. Aku pun
bersedia ikut, dengan tekad ingin mendapatkan pencerahan. Pada saat sesi
konseling, pemuka agama memberiku sebuah kalimat ajaib, “Sekalipun ayah dan
ibumu menolak engkau, Tuhan menyambutmu”. Wow..kalimat itu rasanya seperti oase
yang mengalir mengisi kekosongan dalam jiwaku. Menurutku, itulah kalimat
terindah yang pernah kudengar. Malam itu aku menangis, merasakan kasih Tuhan yang
mengisi kekosongan di hatiku. Di camping itu juga terdapat sesi penyembuhan
luka batin, dan saat itulah aku memutuskan untuk mengampuni kedua orangtuaku,
terutama papa. Saat itulah kesembuhan terjadi. Hubungan dengan keluargaku
dipulihkan. Sejak itu aku berpaling
menjadi seorang teis.
Jika diibaratkan, Tuhan adalah
seorang pelukis, dan hidup kita adalah kanvasnya. Di saat melukis, bukan hanya
cat cerah yang dipakai oleh-Nya, Dia juga akan memakai cat berwarna gelap dan
suram. Tuhan adalah seniman yang dapat membuat kita tertawa sekarang atau
menangis karena kita tidak mengerti rencana-Nya, tetapi setelah lukisanya jadi, semua orang akan “ngeh” dan
berkata; “oalah, ternyata begitu toh maksudnya”. Di tangan seniman, kita tidak
akan bisa menduga hasil akhir dari karyanya. Tetapi, jangan hakimi seniman itu
sebelum dia kelar. Tunggu sampai kuasnya turun... baru nilai, bisa jadi lukisan
yang tadinya coretan asal-asal an bernilai jutaan dolar di tangan seniman ahli.
Ada banyak hal dihidupku yang belum kelar. Oleh karena itu, aku harus SURVIVE,
karena aku tahu Tuhan masih belum selesai dengan hidupku.
