Jumat, 6 Oktober 2017 HAMUR mengikuti acara KUmeetup & Forum Jogja peduli, acara ini merupakan seminar tentang Peningkatan Kualitas Med...

Press Release: Seminar Media Sosial oleh Kampus Update dan Forum Jogja Peduli

Jumat, 6 Oktober 2017 HAMUR mengikuti acara KUmeetup & Forum Jogja peduli, acara ini merupakan seminar tentang Peningkatan Kualitas Media terhadap Komunitas Sosial di Yogyakarta dengan dua pembicara yaitu Rona Mentari (founder Rumah Dongeng Mentari) dan Broto Seno (Presiden Young On Top Yogyakarta)

HAMUR mengirimkan tiga perwakilan, Ezra, Mirza dan Taufik lalu kebetulan Tiara yang menjadi salah satu panitia dan MC acara ini juga merupakan anggota HAMUR, inti dari seminar ini adalah bagaimana cara kita untuk meningkatkan kualitas media pada suatu komunitas sosial namun tidak hanya berhenti pada media sosial saja namun bagaimana cara kita bisa mengangkat brand komunitas yang kita dirikan.
 
Perwakilan HAMUR dalam Seminar Media Sosial | Doc. Pribadi

Apa yang kami dapatkan dari seminar tersebut dapat dirangkum dalam 5 poin :
1.      Kolaborasi
Bagi komunitas yang baru berdiri berkolaborasi dengan komunitas yang concern dibidang yang sama atau dengan Forum diskusimerupakan cara yang efektif untuk menambah jejaring, mendapatkan volunter dan memperkenalkan komunitas walaupun tidak ada masalah bagi komunitas yang sudah cukup lama berdiri untuk melakukan hal yang sama

2.      Buzzer
Buzzer jika diartikan secara bebas berarti seeorang yang memiliki followers yang lumayan banyak dan memiliki impact maupun power kepada followers-nya. Tidak ada salahnya jika sebuah komunitas mendekati seorang atau beberapa orang buzzer untuk memperkenalkan maupun mempromosikan komunitas kita.

3.      Kompetisi
Ada beberapa orang menyukai tantangan dan kenapa tidak berikan kita berikan kepada mereka?, untuk meningkatkan brand komunitas bisa dengan mengadakan lomba yang sesuai dengan komunitas yang didirikan, peserta bisa dari masyarakat luas maupun anggota komunitas itu sendiri, namun jangan lupa lomba atau kompetisi perlu sebuah hadiah, tidak perlu hadiah yang besar atau mahal, secukup anggaran komunitas saja.

4.      Poster online
Media sosial tidak lepas dari desain suatu konten, terkadang orang lebih melihat desain suatu postingan daripada konten itu sendiri, konten komunitas itu bermacam-macam bisa berupa infografis, ajakan mengikuti acara atau mencari volunteer atau bahkan suatu kampanye, namun jika desain kurang menarik akan sedikit kemungkinan postingan kita dibaca warganet, namun jika desain bagus paling tidak warganet sudah tertarik untuk membaca postingan kita

5.      Nilai

Komunitas sosial pasti mempunyai nilai yang mereka pegang dan nilai ini yang menjadi dasar dari berdirinya komunitas lalu apa hubungannya dengan brand komunitas? Jika kita ingin komunitas yang didirikan bisa bertahan lama, bahkan selama lama lamanya perlu untuk anggota komunitas memiliki suatu nilai yang sama dan dalam branding komunitas setiap program yang direncanakan, setiap acara yang terlaksanakan, setiap postingan yang dilakukan perlu untuk menyampaikan nilai komunitas tersebut.


Oleh: Indah Wulandini “Bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan ini padaku.  Aku mampu. Aku sutradara sekaligus aktornya. Dan mereka hanya...

Sandiwara di Tengah Perjuaganku Melawan Gejolak Derita


Oleh: Indah Wulandini
“Bagaimana mungkin Tuhan mempercayakan ini padaku.  Aku mampu. Aku sutradara sekaligus aktornya. Dan mereka hanya pemirsa belaka”

            Secuil kalimat itu seolah menjadi pedoman hidupku. Terlebih ketika aku harus melewati masa sulitku yang ku lalui sendiri. Jika sebelum dilahirkan di dunia mereka diberi pilihan untuk memilih seperti apa nasibnya, aku yakin tak ada yang mau memilih nasib yang aku jalani. Broken Home, penyandang Bipolar dan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Masalah silih berganti seolah tak mau berhenti. Ironis sekali.

            Lalu, aku berfikir. Untuk apa aku hidup jika hanya meratapi nasib burukku itu? Balasan apa yang aku berikan kepada Tuhan dan orang yang menyayangiku? Menyakiti diri sendiri tiada henti, bahkan upaya bunuh diripun pernah ku alami. Perlahan ku sadari, aku harus mampu terlihat tegar di hadapan orang lain. Adapun kiat yang selalu aku lakoni adalah :

  •               Percaya terhadap takdir Tuhan,

Tuhan begitu baik dan maha adil. Manusia diciptakan di dunia untuk saling mengisi satu sama lain. Tuhan memberikan nasib kepada umatnya karena mereka mampu. Percayalah.
  •                        Tersenyum dan selalu menyapa,

Orang tersenyum dan terlihat bahagia belum tentu ia tidak memiliki masalah. Sebagian besar dari mereka memilih ini sebagai cara untuk menutupi kelemahan dan kesedihannya.
  •               Tingkatkan kualitas diri dan tempa prestasi,

Peningkatan kualitas diri merupakan kiat yang harus dilakukan. Peningkatan kualitas ini dapat diraih dengan terus menempa prestasi.

            Manusia ada di bumi untuk berjuang. Jangan jadikan dirimu debu yang dibawa angin kemana ia mau. Jadilah sesosok kaktus yang mampu mempertahankan dirinya ditengah keringnya gurun. 

Oleh: Michelle CG             “Tuhan pasti sedang tertidur ketika aku dilahirkan, sampai-sampai Dia tidak tahu aku telah lahir ke dunia...

Tuhan Belum Selesai dengan Hidupku


Oleh: Michelle CG

            “Tuhan pasti sedang tertidur ketika aku dilahirkan, sampai-sampai Dia tidak tahu aku telah lahir ke dunia... keluargaku menolakku sejak hari aku dilahirkan, mereka membuatku kabur dari rumah saat aku masih Tk, masa kecilku diisi dengan berbagai percobaan bunuh diri, teman-teman membully-ku di bangku SD, aku memiliki seorang kakak yang menderita bipolar, disusul kakak ke-tigaku yang menderita depresi dan jiwaku tersesat sebagai  seorang ateis saat SMP.
            Background keluargaku adalah etnis tionghoa keturunan yang masih kolot dan sangat mendewakan anak laki-laki. Aku adalah seorang anak hasil bayi tabung yang diprogram sebagai bayi laki-laki. Tetapi, Tuhan berkehendak lain, dan aku terlahir sebagai perempuan. Secara otomatis aku diperlakukan sebagai anak yang tertolak. Kedua orangtuaku mulai sering bertengkar, bahkan setelah diselidiki, papaku memiliki anak di luar nikah. Secara hukum mereka tidak bercerai, tak akan pernah. Tapi yang pasti, hubungan keduanya sudah broken. Begitu juga hubunganku dengan mereka. Ketiga kakak-ku yang semuanya perempuan juga merasa tidak tahan saat berada di rumah. Karena terlalu banyak menumpuk amarah dan kesedihan seorang kakakku mengalami gangguan Bipolar, dan yang seorang sempat mengalami depresi.
            Saya sendiri bertumbuh dalam ketakutan dan kegelisahan, dibully saat SD karena minoritas, pernah masuk ke kulkas dan menenggelamkan diri di bathub agar semua selesai. Hatiku penuh dengan luka batin dan kepahitan. Hari-hari yang buruk membayangi. Sulit rasanya mengampuni keluarga dan mengampuni diri sendiri, ditambah saya tumbuh sebagai pribadi yang minder akut. Ingin sekali berteriak dan menyalahkan kenapa Tuhan tidak adil, tapi saat itu aku tidak percaya akan keberadaan Tuhan, jadi aku tidak punya alasan menyalahkan-Nya. 
            Titik balik dalam hidupku terjadi pada tahun 2016, di mana banyak sekali pikiran kelam yang menghantui. Pikiran-pikiran mengenai bunuh diri pun sudah hadir setiap hari. Saat itu hati nuraniku mengatakan “sampai kapan aku mau mengalami penderitaan ini”. Seminggu setelahnya, seorang teman mengajakku mengikuti sebuah camping rohani. Aku pun bersedia ikut, dengan tekad ingin mendapatkan pencerahan. Pada saat sesi konseling, pemuka agama memberiku sebuah kalimat ajaib, “Sekalipun ayah dan ibumu menolak engkau, Tuhan menyambutmu”. Wow..kalimat itu rasanya seperti oase yang mengalir mengisi kekosongan dalam jiwaku. Menurutku, itulah kalimat terindah yang pernah kudengar. Malam itu aku menangis, merasakan kasih Tuhan yang mengisi kekosongan di hatiku. Di camping itu juga terdapat sesi penyembuhan luka batin, dan saat itulah aku memutuskan untuk mengampuni kedua orangtuaku, terutama papa. Saat itulah kesembuhan terjadi. Hubungan dengan keluargaku dipulihkan.  Sejak itu aku berpaling menjadi seorang teis. 
            Jika diibaratkan, Tuhan adalah seorang pelukis, dan hidup kita adalah kanvasnya. Di saat melukis, bukan hanya cat cerah yang dipakai oleh-Nya, Dia juga akan memakai cat berwarna gelap dan suram. Tuhan adalah seniman yang dapat membuat kita tertawa sekarang atau menangis karena kita tidak mengerti rencana-Nya, tetapi setelah  lukisanya jadi, semua orang akan “ngeh” dan berkata; “oalah, ternyata begitu toh maksudnya”. Di tangan seniman, kita tidak akan bisa menduga hasil akhir dari karyanya. Tetapi, jangan hakimi seniman itu sebelum dia kelar. Tunggu sampai kuasnya turun... baru nilai, bisa jadi lukisan yang tadinya coretan asal-asal an bernilai jutaan dolar di tangan seniman ahli. Ada banyak hal dihidupku yang belum kelar. Oleh karena itu, aku harus SURVIVE, karena aku tahu Tuhan masih belum selesai dengan hidupku.
             

Pada tanggal 24 Mei 2017 HAMUR mengadakan nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Sabtu Bersama Bapak”. Film besutan Monty Tiwa yang diangk...

Review Singkat dan Komentar Film “Sabtu Bersama Bapak”

Pada tanggal 24 Mei 2017 HAMUR mengadakan nonton bareng (nobar) dan diskusi film “Sabtu Bersama Bapak”. Film besutan Monty Tiwa yang diangkat dari novel dengan judul yang sama ini sukses mengaduk emosi penonton. Ditambah dengan para pemainnya yang nggak bisa dipungkiri lagi kehebatan mereka dalam bermain peran, menjadikan film ini suatu suguhan yang sangat inspiratif dan edukatif.

Nobar ini diikuti oleh HAMUR regional mana saja. Semacam nobar jarak jauh. Spesial untuk regional Jogja, mereka mengadakan nobar langsung. Nah, yuk mari coba kita simak beberapa pendapat anggota keluarga HAMUR regional Jogja yang nobar langsung.

Mas Mirza
Filmnya Bagus, tetapi saya sedikit kecewa karena jauh banget dari  novel nya, lalu nilai yang saya dapat dari film ini adalah arti seorang orang tua.

Taufik
Filmnya bagus, untuk berbau keluarga film ini bagus ada sedih ada lucu juga, dan nilai yang saya dapat dari film ini adalah orang tua itu tau apa yang bagus untuk kita.

Ifa
Filmnya berbeda dengan novel tapi masih bagus, tetapi akan lebih bagus kalau baca novelnya. Nilai yang saya dapat dari film ini adalah menjadi kuat bersama, sepasang itu satu paket dan masing-masing harus kuat. Benar menikmati masa sekarang itu penting, dan bersyukur atas apa yang dimiliki dan juga harus nurut sama orang tua, insting ortu kuat, Ibuku mengajarkanku kalau sampai jadi orang tua jangan ngerepotin anak, lalu lelaki yang baik akan menemukan perempuan yang baik begitu pula sebaliknya.

Ezra
Ini salah satu film bertema keluarga yang terbaik yang
pernah saya saksikan, penceritaannya seimbang maksudnya ada emosi bahagia ada emosi sedih juga. Nilai yang saya dapat adalah seperti apapun orang tua kita pasti sedikit atau banyak ingin anaknya mempunyai hidup yang lebih baik.

Poster kegiatan

Dari kiri ke kanan : Ezra, Mas Mirza, Ifa, Ela, Taufik

Buat para pembaca yang belum pernah nonton "Sabtu Bersama Bapak", direkomendasikan buat nonton nih. Filmnya kaya akan pesan moral. Ada baiknya sih nonton bareng calon pasangan hidup ya... Supaya bisa belajar bareng tentang makna pernikahan dan keluarga. Hehehe.

HAMUR,
karena keluarga begitu berharga


Oleh : Najmah Perjalanan begitu panjang hingga aku enggan menengok ke belakang. Perjalanan begitu menyesakkan hingga aku tak ingin memu...

Dia yang Selalu Merindu dan Kurindu

Oleh : Najmah

Perjalanan begitu panjang hingga aku enggan menengok ke belakang. Perjalanan begitu menyesakkan hingga aku tak ingin memutar balikkan waktu. Lelah rasanya ketika aku harus melihat sesekali meskipun melalui kaca spion yang aku miliki, namun hal itu tidak dapat aku hindari. Semakin aku mengelak apa yang telah terjadi semakin mencekik rasanya ketika harus bertemu dengannya. Genap satu bulan aku tidak disapanya, entah apa salahku hingga dia seperti itu. Aku bahkan tidak dihiraukannya ketika berpapasan sekalipun, entah apa yang merasuki ku seketika itu aku juga semakin menjauh darinya.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun namun keadaanku masih sama jika sejenak terbesit akan Dia. Kali ini berbeda, dia tersenyum padaku dan bahkan mengehentikan langkahku ketika aku berusaha menjauh darinya. Aku berusaha untuk menampikkan tangan yang menggenggam erat tanganku hingga aku dapat melarikan diri serta pikiranku dari Dia. Dia melihatku kelelahan berusaha untuk lari darinya dan akhirnya dia melepaskanku. Entah apa yang terjadi padaku saat itu, bertahun-tahun aku ingin melihat wajahnya bahkan hingga terisak ketika merindukannya. Aku meneriaki diriku sendiri kala itu, mengapa aku melepaskan kesempatan yang aku tunggu selama 3 tahun. Sore itu aku hanya bisa terisak, berjalan dan terus menyalahkan tindakan bodohku.
Rintik itu kembali menemani langkahku dan butiran menjadi semakin besar. Aku semakin mengutuk hari itu, kenapa harus turun hujan di saat seperti ini. Tangisku semakin menjadi hingga Dia datang padaku dengan membawakan payung biru. Kita saling berpandangan beberapa saat hingga Dia memanggil namaku lagi setelah sekian tahun. Sontak aku berdiri dan lari meninggalkan Dia. Aku sudah tidak dapat berpikir apapun sore itu, Dia yang telah meninggalkan luka dan pergi begitu saja bisakah aku kembali dan melihatnya. Mengingatnya saja sudah menyakitkan apalagi harus melihatnya. Hari itu aku terlelap dengan pakaian kuyup dan sisa tangis yang menggantung di ujung mata.
Satu dua minggu berlalu, aku memberanikan diri untuk kembali melalui jalan itu meski rasa enggan dan takutku sangatlah besar. Entah apa yang membuatku sebenci ini ketika melihatnya, meski dalam hati kecilku sangatlah merindukannya dan ingin kembali bercerita serta tertawa bersama. Aku melalui jalan itu dengan mengamati sekitar dengan seksama, dan Dia benar kembali berada disana menatapku lekat-lekat. Ingin rasanya aku berlari kearahnya dan menumpahkan segala keluh kesahku, namun lagi-lagi aku hanya bisa berjalan dengan perlahan ke arahnya. Dia tersenyum, namun tidak berani melangkah lebih jauh ke arahku hanya terduduk pucat di bawah pohon sudut taman. Aku memberanikan diri untuk duduk berdampingan dengannya dan menayakan kabar apakah dia baik-baik saja selama ini? mengingat apa yang telah Dia lakukan padaku 3 tahun lalu. Tak ada jawaban hanyalah hening dan senja yang menemani, hingga Dia menjawab tanyaku dengan suara parau.
“Aku selalu baik selama kamu baik-baik saja, bagaimana kabar kamu saat   ini?”
Aku hanya menatapnya lekat-lekat dan terus menahan tangis melihat wajahnya dan mendengar setiap ucapannya. Tak ada jawaban dariku hanya mengangguk dan tertunduk, aku tidak tahu kata apa yang pantas untuk menggambarkan apa yang aku rasakan selama ini. Ketika semua orang tertawa bersama seseorang, aku hanya bisa menahan rasa sakit karena seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Aku memutuskan untuk pergi lagi kali ini, namun Dia tidak mengejar hanya mengamatiku lama-lamat dari kejauhan.
Sore berikutnya aku memberanikan diri untuk bertemu dengan Dia dan akan menumpahkan segala sesak yang mencekik untuk sekian lama. Sepi, tidak ada seorangpun yang menunggu disana, Dia yang ku cari juga tidak ada. Aku memutuskan untuk menunggu Dia, entah perasaan macam apa yang sedang bergelayut saat ini. Khawatir, takut atau bahkan tidak peduli, aku hanya perlu menunggu lagi dan lagi tapi dia tetap tidak datang hari itu. Entah apa yang harus aku lakukan, aku sudah tidak tahan menahan sesak lagi. Selepas hari itu aku memutuskan untuk tetap datang setiap senja menunggu Dia, meski aku tak tahu harus menunggu hingga kapan.
Dia datang menghampiriku di suatu senja, dengan senyuman dan setangkai mawar merah di tangan kanannya. Aku hanya terperangah, Dia yang aku tunggu lebih dari seminggu hadir di depan mataku, namun ini tidak baik. Wajahnya sungguh pucat pasi dan suaranya terdengar lebih parau dari terakhir kita bertemu. Hingga akhirnya Dia duduk di sampingku dan memberikan setangkai mawar yang selalu aku sukai dan terlelap dalam kesakitannya. Aku tidak bisa menahan pecahnya tangis hari itu, sontak aku berteriak
"Ayah... Ayah ... jangan seperti ini lagi. Aku belum mulai berbicara, aku bahkan belum memulai apapun."
seketika itu tangisku semakin menjadi dan berusaha semampunya untuk memberikan yang terbaik. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk kesekian waktu, disaat aku telah bisa menerima seutuhnya setelah lama dan sakit rasanya ketika di abaikan
Ketika sesuatu hal buruk terjadi bukan berarti memang hal buruk yang terjadi. Kadang kita hanya perlu mengucapkan syukur kepada Tuhan atas apa yang terjadi karena Tuhan sangat sayang kepada kita dengan memberikan keistimewaan meski hal itu sangat menyakitkan. Tentu saja setiap orang mempunyai alasan yang kadang tidak diketahui dan meninggalkan bekas yang sangat menyesakkan untuk dihadapi. Padahal hal itu sebenarnya untuk kebaikan diri kita. Kadang tanpa sadar kita hanya lebih suka memprotes keadaaan, mengapa hal ini terjadi?, mengapa seseorang melakukan hal ini kepada kita? Tapi pernahkah kita melakukan sesuatu hal demi kebaikan orang lain? Pernahkah kita menghargai apa yang telah dilakukan oleh orang lain? dan apakah pernah kita melihat dengan seksama apa yang telah dilakukan oleh orang tua terhadap kita?
Beberapa orang merasa orang tua yang tidak peduli, benar-benar melakukan hal yang demikian. Namun satu hal yang pernah aku tahu, ketika Dia yang kalian panggil Ayah ataupun Ibu tidak memiliki waktu luang untuk kalian bukan berarti mereka tidak peduli, tapi karena mereka percaya kalian bisa melaluinya dengan baik. Mereka merasa hanya butuh sesekali untuk memperhatikan kalian. Meskipun orang tua tidak peduli dan memang benar-benar tidak peduli, yakinlah akan suatu hal ketika kalian berhasil meski tidak diucapkan dan meski tidak diungkapkan dengan apapun Mereka sangat bangga pada kalian. Terkadang memfikirkan hal yang sederhana dan selalu berfikir positif membuat suasana hati menjadi lebih tenang.

Jangan pernah terlalu membuang waktu untuk membenci orang-orang disekitar.Kadang kita hanya perlu merasa bersyukur dan tersenyum kemudian menjadikan hal-hal menyakitkan sebagai pupuk untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Cerita ini hanyalah sebuah ungkapan, sesakit apapun kita dengan perlakuan seseorang terlebih orang yang sangat dekat dengan kita, selalu ada masanya untuk terlebih dahulu memaafkan tanpa alasan.

-----------------------------------------------------------------------------------------
Sekilas mengenalkan diri, saya Najmah Munawaroh gadis asal Kabupaten Kendal yang lahir di Kuningan Jawa Barat pada tanggal 3 Mei 1997. Sekilas tentang saya merupakan putri sulung dari dua bersaudara yang aktif dalam bidang kebencanaan khususnya relawan dan sedang belajar untuk bisa produktif dalam hal menulis. Khususnya dalam menulis yang dapat menginspirasi orang-orang.
E-mail/no Hp/Wa        : najmah036@gmail.com/ 087838815190

Total Tayangan Halaman

Pencarian

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Most Trending

Popular Posts