13.37
Tidak Ada Kecewa
Kenalkan,
aku Allona. Aku anak terakhir dari lima bersaudara. Tiga saudara tiri dan satu
saudara kandung. Tiga saudara tiriku merupakan bawaan Papa dari istri pertama. Mamaku
merupakan istri kedua setelah istri yang
pertama meninggal. Ya, Mamaku seorang gadis dan Papaku seorang duda beranak
tiga lebih jelasnya.
Kehidupan
kami berjalan lancar dan cukup bahagia. Papa sering mengajak aku ke luar kota
untuk bekerja dan menggendongku kala aku masih balita. Papa juga sering mengajak
aku untuk makan di warung Bu Safak dengan menu opor pupu tekuk. Meskipun
hubungan kami tidak seakrab hubungan ayah dan anak pada semestinya, tapi aku
cukup bahagia akan hal kecil yang aku lakukan bersama dengan Papa. Aku juga
bahagia karena aku tinggal bersama Mas Nino, Mbak Widya dan Mbak Andin yang
selalu menjaga dan membahagiakan aku. Oh iya aku tidak tinggal bersama dengan
Mbak Ayudia , kakak tiri ketiga ku karena ia dirawat oleh saudara dari Papa.
Seiring
dengan perkembangan teknologi, kala itu anggota keluargaku telah memiliki handphone (hp) kecuali aku karena masih
balita. Kudengar seringkali Mama dan Papa beradu mulut tentang masalah pesan
singkat di hp Papa. Papa bilang itu hanya pesan salah kirim yang kebetulan ada
di hp Papa. Beberapa waktu kemudian, Mas Nino kecelakaan di dekat rumah dan hp Papa
Mama yang pegang. Saat itu pesan singkat dan missed call berdatangan di hp Papa. Mama mulai curiga dan terkuak
sudah ternyata selama ini Papa memiliki hubungan dengan wanita lain di luar
sana. Aku yang masih kecil kala itu ingat betul saat diajak Mama untuk survey
ke lokasi sebenarnya siapa wanita itu. Ternyata sosoknya adalah wanita pedagang
kaki lima yang diberikan modal oleh Papa. Kemudian Papa di sidang di rumah
namun Papa mengelak tidak melakukan hal semacam itu meskipun barang bukti sudah
berbicara. Papa berjanji tidak akan melakukan hal seperti itu.
Tahun
dua ribu lima Papa memilih untuk urban ke ibukota untuk memperbaiki ekonomi
keluarga agar lebih baik. Komunikasi antara aku dan Papa sudah tidak se intens
dulu lagi. Tak berapa lama kemudian, Mama menyusul Papa ke ibu kota dan aku
hanya tinggal bersama dengan Mas Nino dan Mbak Widya. Sedangkan Mbak Andin
sudah mulai pindah ke kota tetangga untuk menempuh pendidikan lanjutnya. Di
jakarta ternyata Papa menjalin hubungan dengan seorang pemulung. Miris memang,
namun mau bagaimana lagi itu juga Papaku. Dan lagi, Papaku tidak mau mengakui
hal itu kembali meski barang bukti telah tersedia. Dan setelah kurang lebih
enam bulan Mama pun memilih untuk kembali ke kampung dan hidup bersama aku
lagi.
Setelah
dua tahun sifat Papa masih saja sama, perekonomian keluarga pun mulai limbung
dan mengenaskan. Akhirnya Mama memutuskan untuk pergi ke jakarta. Karir Mama
dimulai dari bekerja di konveksi dengan gaji lima puluh ribu seminggu, mencuci
pakaian tetangga, meluruskan paku bekas, jual beli paku bekas dan besi tua,
membuka toko, hingga Mama mampu mandiri dengan usahanya dan menstabilkan
perekonomian keluarga. Hal ini semata-mata karena kebutuhan keluarga yang makin
membengkak dan Papa masih menjalin hubungan dengan wanita lain di luar sana. Papa
pernah menjalin hubungan dengan penjual bunga, pemulung, pedagang asongan,
istri rekan kerja, karyawan pabrik, dan lain sebagainya.
Selama
kurang lebih empat setengah tahun aku berpisah jarak dengan Mama, akhirnya saat
aku memasuki sekolah menengah pertama, aku dan Mama memutuskan untuk hijrah dan
tinggal bersama dan melupakan tentang keburukan Papa. Sudah cukup puas untuk
tinggal di kampung karena Papa selalu mengadu domba Mama dengan keluarganya
sehingga ada hubungan tidak harmonis antara Mama dengan sanak saudara. Saat itu
kita hanya tinggal di kamar kost kecil dengan kamar mandi kumuh yang saat
pertama kali ku melihatnya hanya ada rasa jijik. Namun lama kelamaan aku
terbiasa dengan hal itu dan justru aku merasa memiliki rumah disana. Papa hanya
sesekali menjenguk aku dan Mama karena domisili Papa saat itu masih di jakarta
sedangkan aku di Jawa.
Tempat
baru merupakan usaha baru. Begitulah prinsip aku dan Mamaku. Kala itu Mama
selalu mencoba untuk memperbaiki perekonomian tanpa ada campurtangan Papa. Mama
memulai usaha kecilnya dengan membuka warung makan, pijat lulur dan pada
akhirnya bekerja di sebuah laundry yang kini menjadi miliknya. Butuh cukup
waktu untuk merasakan makan enak tanpa memikirkan uang jajan yang ada di
kantongku kala itu. Butuh perjuangan agar tidak di bully oleh teman-temanku
kala itu. Papa masih sama, masih bermain dengan wanita yang entah sudah berapa
jumlahnya. Akupun mulai merasa malas apabila Mama bercerita tentang Papa dan
wanitanya.
Dua
tahun yang lalu, Papaku sudah memutuskan untuk tidak bekerja lagi dan sudah
memutuskan hubungan dengan kami (aku dan Mama). Papa tinggal di rumah lama
kami. Papa berhenti bekerja karena Papa sudah muak selalu dituduh berselingkuh
secara terus menerus oleh Mama. Tiada lagi rasa percaya yang diberikan oleh Mama
kepada Papa. Hal ini berdampak pada aku yang galau memikirkan urusan keluarga.
Aku ingat betul kala itu aku masih terduduk bermain hp di bangku belakang dengan
tiada aura semangat.
Tiba-tiba guru BK memanggil nama tengahku yang kebetulan
ada orang lain yang memiliki nama sama dengan ku. Lalu guru BK itu menanyakan
apakah aku memiliki saudara bernama Ibu susi, ku jawab benar. Dalam hatiku nama
itu adalah nama yang akhir-akhir ini selalu ku dengar disetiap pertengkaran Mama
dan Papa. Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya di ruang BK sekolahku. Tak
kusangka ternyata sosok di depanku ini merupakan sosok yang mengakibatkan Mamaku
tak tidur di malam hari dan membuat Papaku akhirnya memilih untuk berhenti
bekerja. Sebelum ke ruang BK, aku sudah memberi kabar ke Mbak Andin bahwa pacar
Papa menemui ku di sekolah.
Beberapa saat ku ajak ngobrol Bu Susi yang datang
ditemani oleh anaknya. Aku ajak dia berbincang dengan nada baik meskipun hatiku
teriris dan ingin menghabisi muka dua orang di hadapanku kala itu. Beberapa saat
kemudian, datanglah Mamaku dengan amarah yang tersulut. Akhirnya aku mulai
menangis dan salah seorang guru BK mencoba untuk menenangkanku. Di luar ruangan
kecil ini Mamaku bertengkar dengan bu susui yang merupkan pelakor dalam
keluarga kami. Tak sedikit mata memandang kejadian itu. Aku pun malu dengan
diriku sendiri yang tak bisa menjaga situasi itu, justru aku terjatuh pilu.
Semenjak
kejadian di ruang BK itu, aku tak berani menampakkan mukaku di khalayak umum.
Terlebih ketika ada salah seorang teman yang dengan baiknya membeberkan fitnah
antara aku dengan teman yang lain. Aku harus mencari cara agar aku bisa kembali
menjadi aku seperti sedia kala. Pada akhirnya, aku menemukan cara yaitu dengan
cara berprestasi. Setiap perlombaan aku ikuti entah bagaimana pun hasilnya yang
penting aku selalu berusaha. Hingga akhirnya beberapa kejuaraan pun telah
berhasil aku genggam.
Beberapa
bulan kemudian, aku sering merasa apa yang selama ini aku pendam sudah tidak
mungkin aku jaga seorang diri. Aku sudah tidak kuat untuk merasakan ini semua
seorang diri. Beberapa upaya bunuh diri juga pernah kulakukan namuan
alhamdulillah semua nihil, tak ada satupun yang berhasil. Kemudian aku mencoba
untuk menemukan jalan lain yang lebih baik daripada mengakhiri hidup. Aku
memilih datang ke seorang ahli jiwa dan menceritakan segala sesuatu yang aku
rasakan. Bagai disambar petir, ternyata selama ini aku menderita bipolar dan
PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).
Aku pun harus menjalankan beberapa terapi yang membuatku lebih baik daripada
sebelulmnya karena Aku belum bisa meneirma masa lalu ku dan kenyataan tentang
orang-orang yang berada disekelilingku.
Kejadian
demi kejadian telah terjadi dalam hidupku dan keluargaku. Kata cerai seolah
selalu menghantui kami terutama Mama. Namun Mama memilih untuk tidak berpisah
dengan Papa karena banyak pertimbangan, salah satu diantara pertimbangan itu
adalah aku dan masa depanku. Bagaimanapun beliau tetap Papaku. Apapun itu,
bagaimanapun itu tetap orang tuaku, darah dagingku. Tak mudah untuk terus
tertindas oleh aral yang ada. Dan bagi yang bertaya apakah Papaku masih
memiliki hubungan spesial dengan orang lain? Jawabannya masih dan tentu saja
selalu dengan orang yang berbeda setiap waktunya.
Kecewa
pasti ada karena aku selalu berharap papaku lebih baik atau setidaknya sama
dengan papa temanku. Aku selalu berharap keluargaku utuh layaknya keluarga
lain. Aku juga ingin drama telenovela seperti ini tidak terjadi dalam kehidupanku.
Jika aku selalu berharap dengan asa tanpa upaya, aku hanya akan mendapatkan
kekecewaan untuk yang kesekian kali. Termasuk masalah papa dan keluarga.
Kehidupan
memang menuntut kita untuk selalu belajar dari masa lalu untuk meraih masa
depan. Jangan jadikan dirimu butiran sisa masa lalu yang terbawa angin kemana
ia mau. Jadilah sosok insan yang menjadikan masa lalu untuk menggapai butiran
demi butiran kecil untuk merangkai masa depanmu. Tidak ada seorangpun yang
menyakiti ataupun mengecewakanmu. Kamu hanya kecewa terhadap harapan yang kau
untai terhadap seseorang itu. Percayalah.
(Indah
Wulandini, 18 tahun)








