Oleh :  Maharani Ratih Prilayanti “Apapun yang akan kau lakukan, bila dari awal kau menyimpan keraguan jangan lakukan itu. Sesuatu yang...

DORAMA

/
0 Comments
Oleh : Maharani Ratih Prilayanti

“Apapun yang akan kau lakukan, bila dari awal kau menyimpan keraguan jangan lakukan itu. Sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik hasilnya”. Sepenggal kalimat itu menjadi pengingatku dalam mengambil keputusan. Bukan karena nasihat orang lain, tapi hidupku sendiri yang memberi banyak pelajaran. 

Saat menulis cerita ini, bagiku aku hanya anak perempuan tunggal berumur 21 tahun yang tinggal dengan ibuku karena orangtuaku berpisah sejak 3 tahun yang lalu. Orang bilang aku adalah anak broken home, tapi aku sendiri tidak merasa “broken” karena yang aku tidak merasa rusak. Aku masih merasa diriku utuh seperti anak lainnya, walaupun orang lain menganggap berbeda. Disini aku tidak ingin menyudutkan salah satu pihak, niatku hanya membagi ceritaku dan dapat kau ambil pelajarannya.

Orangtuaku memang belum lama berpisah, tapi selama menjadi anak aku tidak merasakan kebahagiaan nyata. Semacam merasa bahagia tapi kau tahu cepat atau lambat bencana akan datang. Rasanya seperti kau sudah tahu kapan ajalmu akan datang namun orang di sekitarmu sedang berusaha membahagiakanmu. Hanya kepalsuan.

Dilahirkan menjadi anak tunggal tidak selamanya kau akan dimanjakan oleh orangtuamu. Menjadi anak tunggal juga berarti kau harus menanggung perih sendiri, dan itu terjadi padaku. Saat aku umur 6 tahun, aku harus mengetahui bahwa orangtuaku tidak seharmonis yang aku bayangkan. Anak 6 tahun mana yang mengerti tentang masalah rumah tangga, yang aku tahu hanya orangtuaku bertengkar dan buatku itu wajar karena mereka memang sering bertengkar. Namun, masalah yang terjadi bukan berawal dari itu, tapi sejak orangtuaku belum menikah. Yang aku tahu ibu dan ayahku memang hampir gagal menikah karena ibuku perlahan mengetahui watak asli ayahku. Seperti yang kau duga, akhirnya memang ayahku tetap memaksa dan pernikahan terjadi.

Setelah pernikahan masalah mulai muncul terus menerus bahkan sebelum aku lahir. Mulai dari kebohongan, fitnah, wanita lain, judi, dan hutang. Aku tidak pernah mengerti semua hal itu sampai aku menjadi bocah yang baru masuk SD yang dipaksa mengerti masalah orang dewasa.

Aku masih ingat waktu itu aku dititipkan ke tetanggaku karena ibu dan ayahku ada urusan. Aku sudah merasa janggal sedari itu. Aku memang selalu ikut kemana ibuku pergi. Entah darimana aku tahu kalau hari itu ternyata orangtuaku sedang bertemu dengan selingkuhan ayahku dan suaminya. Saat itu aku juga belum paham apa itu selingkuh, tapi semesta sepertinya menginginkan aku dewasa lebih cepat. Dalam waktu singkat aku tahu masalah yang terjadi, dari bagaimana bisa terjadi sampai identitas perempuan itu. Tidak lama setelah pertemuan itu ibuku mengajukan gugatan cerai.

Perjalanan gugatan cerai tersebut tidak berjalan mulus, ayahku selalu berusaha menunda persidangan dengan berkali-kali tidak datang. Kurang lebih setahun terombang-ambing tetapi ibuku mengalah dan rujuk kembali karena melihat aku yang masih kecil dan ayahku yang bersedia berjanji hitam diatas putih untuk berubah lebih baik.

Selama sebelas tahun setelah rujuk, kehidupan kami tidak seperti yang diharapkan. Masalah masih terus datang silih berganti dan masih sama seperti sebelumnya. Hutang, perselingkuhan, judi, dan kebohongan masih terus berlanjut. Ayahku sering berhutang kemana-mana dengan alasan bisnis tanpa sepengetahuan ibuku, yang kami tahu hanyalah penagih hutang yang datang silih berganti pada ibuku bahkan ada yang menagih padaku. Mulai dari yang masih bersikap baik sampai bersikap kasar. Kami pun juga tidak tahu ayahku menggunakan uang-uang tersebut untuk apa, bahkan ayahku pun tidak memberikan nafkah yang cukup untuk kami. Pernah suatu ketika penagih hutang datang ke rumah untuk mengambil satu-satunya motor yang kami punya karena ayahku menggadaikan tanpa sepengetahuan ibuku, dan motor itu adalah pemberian kakekku untuk ibuku. And in that time, I lost my words.

Kehidupan semakin buruk saat aku kelas 6 SD. Aku sudah kehilangan mukaku karena ulah ayahku. Ayahku memang seorang programmer, pekerjaan yang menjanjikan untuk generasi ayahku yang masih jarang orang ahli dalam bidang tersebut. Tetapi ayahku tidak memanfaatkan ilmunya dengan baik. Ayahku menangani proyek pengadaan internet di sekolahku namun dana yang seharusnya digunakan untuk mengerjakan proyek malah dibawa kabur oleh ayahku. Padahal uang dua puluh juta tersebut adalah hasil hutang salah satu guru sekolahku dengan konsekuensi gaji dipotong. Kau bisa bayangkan sendiri bagaimana perasaanmu jika ayahmu bisa berbuat demikian padahal kau masih bertemu dengan gurumu setiap hari.

Masalah tidak sampai disitu saja, di rentang waktu yang tidak lama kejadian besar menimpa keluargaku. Masih ingat betul rabu siang itu aku sakit dan tidak masuk sekolah dan tiba-tiba ayahku yang tidak biasanya pulang saat jam istirahat pulang ke rumah dan menanyakan keberadaan tas ransel hitam yang biasa dibawa. Aku tidak tahu dimana ransel itu berada. Ternyata tas ransel itu yang membuat hidupku berubah dalam sehari saja.

Tas ransel itu berisi uang pembayaran beberapa orang yang mempunyai cicilan pembayaran di kantor ayahku. Aku tidak tahu mengapa ada orang yang membayar melalui kantor ayahku padahal ayahku tidak bekerja di posisi yang berhubungan dengan keuangan. Uang yang ada di dalam ransel itu jika dikalkulasi sekitar dua puluh juta dan ransel tersebut hilang. Beberapa hari kemudian, ransel itu kembali namun tidak dengan uang yang ada di dalamnya. Seperti yang kau tebak, ayahku dituduh menyelewengkan uang perusahaan dan dipaksa mengundurkan diri dari kantornya. Sampai sekarang aku juga tidak tahu ayahku benar-benar kehilangan secara tidak sengaja atau memang menyelewengkan uang tersebut setelah kelakuan ayahku yang sering berhutang sana sini tanpa tahu digunakan untuk apa.

Kau juga tahu apa yang terjadi selanjutnya, he is jobless. Gaji ibuku sudah dipotong untuk melunasi hutang ayahku, sebelumnya orangtuaku juga sedang membangun rumah kami. Padahal aku mulai masuk smp dan butuh biaya. Apalagi aku masuk ke SMP terbaik di Jogja dan di kelas akselerasi. Fyi, biaya kelas akselerasi di SMP N 5 sekitar dua ratus ribu dan gaji ibuku hanya dua puluh lima ribu karena habis dipotong untuk melunasi hutang ayahku. Lalu bagaimana dengan kehidupan kami? Ibuku setiap hari hanya tidur 2 jam karena membuat kue dan pepes untuk memenuhi biaya sehari-hari dan sekolahku yang mahal. Setiap pagi ibuku mengantar ke pasar untuk dititipkan ke pedagang. Siang hari giliranku mengambil sisa dagangan dan menitipkannya kembali ke warung dekat rumah. Hal itu berlangsung beberapa tahun sampai hutang ibuku di kantor lunas. Ibuku selalu mengusahakan yang terbaik untukku meskipun biaya sekolahku mahal tetapi ibuku selalu berusaha untuk memberiku pendidikan yang terbaik. Kau juga bisa menebak apa yang dilakukan ayahku selama itu. 

He is doing nothing, stay at home with his laziness and never seeking any job. Sampai tahun terakhir di SMP, ayahku baru mendapat pekerjaan dan itupun ibuku yang mencarikan. Saat itu kontrakan rumah kami juga habis dan kami tidak punya uang untuk mencari kontrakan baru. Rumah yang sedang kami bangun juga belum bisa ditinggali karena uang muka di bank yang seharusnya sudah lunas juga diselewengkan ayahku. Akhirnya kami menumpang di rumah salah satu teman ibuku yang tidak dipakai selama 4 bulan dan kemudian mulai tinggal di rumah kami yang baru setengah jadi.

Di pekerjaan yang baru tentunya gaji ayahku tidak sebesar di kantor sebelumnya. Gajinya hanya cukup untuk membayar cicilan rumah. Ibuku membuat kesepakatan untuk membagi tanggungjawab dengan ayahku. Ayahku membayar cicilan rumah dengan gajinya dan ibuku berusaha untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Awalnya memang ayahku membayarkan cicilan rumah kami untuk beberapa bulan. Seperti yang kau bisa terka, keadaan itu hanya berlangsung sesaat kemudian ayahku tidak membayar cicilan rumah kami nunggak hingga bertahun-tahun. Ayahku berargumen bahwa rumah yang kami tinggali belum mendapat IMB dan bank mempunyai andil karena menyetujui kredit dari developer yang belum mengajukan IMB.

Kau masih ingat tadi aku bercerita tentang guruku yang uangnya dilarikan ayahku? Suatu ketika saat aku masih SMP, aku mendapat surat dari beliau. Tanpa membukanya aku sudah tahu surat itu ditulis oleh siapa. Aku hapal betul itu tulisan tangan guruku yang enam tahun mengajarkan agama padaku. Kau bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat itu. Anak SMP yang ditagih hutang ayahnya di sekolah dan tidak tahu ayahnya berhutang untuk apa dan uangnya kemana. Aku juga paham bagaimana perasaan guruku yang kehilangan jejak ayahku padahal setiap bulan gajinya harus dipotong karena uangnya dibawa kabur ayahku, aku memakluminya.

Saat aku SMA ternyata hutang itu juga belum diselesaikan ayahku. Saat kelas 3 SMA adalah saat yang berat bagiku. Hari itu hari jumat dan aku baru selesai olahraga di sekolah. Salah satu temanku memberitahu jika aku mendapat surat dan bisa diambil di guru piket. Aku tidak curiga sama sekali karena aku mengira surat dari dinas pendidikan atau yang lain karena aku memang mengikuti beberapa lomba saat aku SMA. Hal yang sama terulang kembali, surat yang aku dapatkan adalah dari guru agamaku dengan tulisan tangan khasnya. Aku tidak membacanya sampai habis. It ruined my day. Seharian aku tidak bisa fokus belajar. Aku juga tidak tahu darimana guruku tahu aku melanjutkan SMA dimana, tapi aku paham uang sebesar itu pasti sangat berarti untuknya. Sorenya aku memberikan surat itu pada ibuku, dan pertengkaran semakin intens sejak surat itu datang.

Bukan itu saja, ayahku ternyata terlibat bisnis dengan tetangga rumahku dan melarikan uang sepuluh juta dan menjaminkan motor yang ada di rumahku jika uangnya tidak kembali. Aku tidak habis pikir tentang perbuatan ayahku, dia melarikan uang tetanggaku dan motor yang dijaminkan adalah motor tanteku yang dipinjamkan ke ibuku karena kami hanya punya satu motor. Tetanggaku berkali-kali menagih ke rumah dan mengancam akan mengambil motor itu. Padahal ibuku juga sudah menjelaskan itu bukan motor milik ayahku namun dia tidak peduli. Selama ini jika ada orang yang menagih hutang ke rumah ayahku selalu tidak ada dan yang menghadapi adalah aku dan ibuku. Ayahku sengaja pulang larut supaya orang-orang yang berurusan dengannya tidak bisa menemuinya.

Malam itu hari rabu saat aku sedang belajar untuk latihan UN matematika SMA. Pak Sulis tetanggaku itu datang ke rumahku menagih hutang lagi dengan nada yang tinggi. Mulanya aku masih berusaha tenang dan tidak ikut campur saat ibuku berbicara dengannya di depan pintu rumahku. Dia masih ngotot untuk mengambil motor tanteku karena ayahku tidak membayar hutangnya. Karena ibuku malas berdebat lalu ibuku mengakhiri percakapan dan menutup pintu. Tetapi dari luar Pak Sulis teriak-teriak akan mengambil motor itu dan mengangkat motor itu sendirian dari teras rumah padahal motor tersebut dalam keadaan dikunci ganda. Aku pun membuka pintu rumah dan menarik motor itu supaya tidak dibawa oleh Pak Sulis. Kemudian melepas motor tanteku dan melampiaskan amarahnya di muka ibuku. Anak mana yang terima ibunya dimaki orang apalagi dengan jarak 10 cm dari muka ibuku. 

Aku pun menjauhkan ibuku dari Pak Sulis dan memarahi balik. Pertengkaran kami kian memanas karena Pak Sulis berani memukulku dan kemudian tetangga sekitar rumahku melerai kami dan meminta Pak Sulis pulang dan tidak mengganggu aku dan ibuku. Setelah kondisi mulai tenang, aku dan ibuku masuk ke rumah dan aku menangis sejadi-jadinya. Mengapa semua ini terjadi dan mengapa ayahku tidak pernah berubah. Tapi aku sadar, luka ibuku pasti lebih pedih dan aku berusaha menahan tangisku. Bila hanya meratap tidak akan ada yang berubah, aku harus berusaha membahagiakan ibuku dengan caraku.

Ujian nasional semakin dekat begitu juga ujian masuk PTN, tapi keadaan keluargaku semakin tidak stabil. Walaupun begitu aku harus berhasil lulus SMA dan bisa kuliah di UGM. Hanya itu yang aku bisa lakukan untuk ibuku yang sudah berusaha membesarkan aku. Beberapa hari sebelum aku ujian saringan PTN, ibuku mengajakku bicara. Ibuku meminta pendapatku apabila ibuku ingin menggugat cerai ayahku lagi apakah aku keberatan dengan keputusan ibuku. Aku sama sekali tidak merasa sedih saat ibuku menanyakan hal itu. Aku sepenuhnya mendukung keputusan ibuku. Ibuku lega mendengar jawabanku, tetapi beliau masih ingin tidak mengganggu konsentrasiku sehingga ibuku akan mengajukan gugatan setelah aku masuk kuliah.

Saat itu hampir pukul tujuh malam, hari itu pengumuman hasil tes tertulis masuk PTN. Aku sudah siap membuka hasilnya. Ada kekhawatiran dihatiku karena di SNMPTN undangan sebelumnya gagal masuk UGM dan aku melihat wajah ibuku yang kecewa. Tepat pukul tujuh malam aku log in dan membuka hasil ujian tulisku. Tidak disangka aku diterima di UGM dan aku langsung teriak kegirangan sembari menghampiri ibuku yang sedang mengaji. Aku berkata pada ibuku jika aku diterima di UGM dan ibuku seketika menangis haru dan memelukku. Sambil menangis berdua kami menuju kamarku dan melihat pengumumannya. Ibuku bertanya diterima di jurusan apa tetapi aku tidak tahu karena terlalu senang aku hanya melihat kop UGM yang terpampang dan tidak melihat diterima jurusan apa. Konyol memang momen itu. Lalu cermati dan ternyata aku diterima di jurusan Pendidikan Dokter Gigi yang menjadi pilihan pertamaku. Ibuku memelukku dengan erat dan menangis haru sembari memujiku yang berhasil memberi kebahagiaan kecil untuknya. Hatiku pun juga luar biasa bahagia karena melihat ibuku bahagia dan memujiku karena memang aku jarang dipuji oleh ibuku sebelumnya. The true happiness is when you make your love ones happy.

Akhir tahun 2012 ibuku mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama. Tentu saja ayahku tidak menerima keputusan ibuku. Sudah sejak aku kuliah, pertengkaran dalam rumah kami semakin menjadi. Setiap pagi aku bukan dibangunkan oleh mentari pagi namun dengan pertengkaran ayah dan ibuku. Hutang ayahku yang ada dimana-mana dan tidak jelas untuk apa masih mendasari kekacauan di rumahku. Sampai bulan Januari 2013 akhirnya aku dan ibuku memutuskan untuk tidak tinggal bersama ayahku dan memilih menyewa sebuah kamar kost kecil. Bukan hanya karena pertengkaran yang terjadi setiap hari, namun ayahku juga sudah mempermalukan aku di kampus dengan berbuat onar karena aku tidak mau ditemui di kampus. Ayahku menyumpah serapahi aku di depan banyak orang karena lebih memilih mendukung ibuku daripada dia. Dia juga mengancam akan mengeluarkan aku dari kampus. Kau tahu seharusnya yang dilakukan seorang ayah yang masih waras bukan seperti itu. Entah perasaanku harus bagaimana, yang jelas aku sudah benar-benar malu dan sempat enggan untuk masuk kuliah lagi. Tetapi aku selalu mengingat pengorbanan ibuku selama ini yang berusaha menyekolahkan aku dengan susah payah. Kalau aku menyerah di titik ini lalu buat apa selama ini usahaku untuk membahagiakan ibuku?

Sepanjang kami berpisah dari ayahku hingga ayah dan ibuku resmi bercerai di bulan Mei dan bahkan sampai tahun 2014, aku dan ibuku selalu menerima pesan singkat dan telpon yang bernada teror dari ayahku. Ayahku berusaha membalikkan fakta dengan menuduh ibuku yang memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Setiap hari berkali-kali kami dibombardir dengan teror dan sempat membuat aku stress dan tidak fokus dengan pendidikan. Akhirnya awal tahun 2014 mulai ada titik terang bagi kehidupan kami. Adik laki-laki ibuku dan kakekku datang ke rumah lamaku dan mencoba menyelesaikan masalah agar kami tidak terus menerus mendapat ancaman dari ayahku. Hari itu juga menjadi kesempatan terakhirku bertemu ayahku.

Hampir dua tahun aku dan ibuku hanya tinggal di sebuah kamar kost kecil yang keadaannya kurang layak. Tetapi aku berusaha untuk dapat menjalani studiku dengan baik karena aku percaya Tuhan tidak akan mengingkari janjinya jika kita mau berusaha dan berdoa serta bisa mengikhlaskan takdir yang terjadi. Benar saja, Desember 2014 aku dan ibuku bisa menempati rumah baru kami yang diberikan Tuhan melalui kakekku yang mendapat rezeki. Rumah ini lebih besar dan bagus dibandingkan rumah lama kami, bahkan juga dapat kami bangun beberapa kamar kost yang dapat menambah pemasukan keluarga kami. Menerima dan berdamai dengan keadaan memang tidak mudah, namun jika kita percaya akan garis yang diberikan Tuhan kita akan mendapat kemudahan dalam menjalani takdirnya.

Dua puluh bulan sejak terakhir aku melihat ayahku aku kembali melihatnya saat aku baru sampai setelah dua bulan KKN. Dia datang malam itu ke rumahku dengan badannya yang jauh lebih kurus dan tidak terurus ketimbang saat masih bersama ibuku. Ada perasaan yang berkecamuk saat itu. Antara rindu akan sosok ayah, iba dengan kondisinya, tetapi hatiku masih marah dengan perbuatannya selama ini. Aku ingat sekali saat pamit pulang, ayahku mencium keningku seperti ada rasa rindu dengan anaknya yang selama ini tidak dia perlakukan dengan baik. Entah perasaan itu nyata atau semu aku tidak peduli. Seperti tali yang sudah putus dan berusaha disambung lagi, ikatannya tidak sama dengan yang tidak pernah rusak. Begitu pula hubungan kami sekarang, walaupun aku mencoba untuk bersikap baik dan menerima tetapi aku juga hanya manusia yang sedang belajar arti ikhlas.



Sampai saat aku menulis cerita ini, alhamdulillah hubungan ayahku dan aku semakin membaik namun seperti yang aku katakan tadi segalanya tidak akan pernah sama. Apapun yang sudah terjadi, baik buruknya kedua orangtuaku mereka tetap orangtuaku dan takdir Tuhan tiada yang kuasa melawan. Aku hanya perlu menerima dan menjalani kehidupan dengan baik dan berusaha membanggakan keluarga. Hidup itu seperti drama yang harus kita lakonkan agar kita tahu bagaimana akhirnya. Hadapi untuk menyelesaikan masalah, berdoalah untuk meminta bantuan Tuhan, dan ikhlaskan untuk melapangkan hatimu. Dua puluh tahun kehidupan ini akan aku jadikan pelajaran yang teramat berarti di masa mendatang, semoga untukmu juga.

Tentang penulis :
Maharani Ratih Prilayanti, perempuan kelahiran 1995 yang berasal dari Yogyakarta. Sejak bangku sekolah akrab dengan perlombaan dan mendapat prestasi mulai dari bidang olahraga atletik, agama, karya tulis, hingga kehutanan. Pernah mendapat beberapa prestasi dalam bidang karya tulis dari DIKTI dan menjalani student exchange di University of Tokushima dengan beasiswa Pemerintah Jepang. Saat ini sedang menyelesaikan studinya menjadi dokter gigi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kontak yang dapat dihubungi melalui email: raniratih@gmail.com


You may also like

Tidak ada komentar:

Total Tayangan Halaman

Pencarian

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Most Trending

Popular Posts